jam menunjukkan pukul 1.29 am. aku masih menenangkan pikiranku dengan tidur di lantai bawah meja rapat kantorku. aku meminta tolong anak didikku untuk menggantikanku mengetik karya-karya santri/wati darul muqorrobin yang akan ikut lomba nulis online baik puisi, cerpen, maupun surat. tiba-tiba seseorang masuk dan marah-marah semarah langit saat itu. hujan yang turun sangat deras sederas air mata yang keluar dari seorang anak karena kehilangan ibunya. "sebenarnya kalian jaga atau tidur? kenapa saya datang tidak ada yang membukakan gerbang? sekarang kalian baca istighfar sampai saatnya kalian tertidur." dari bawah meja aku pun terbangun lalu kuintip perlahan. seorang berpawakan gagah mengenakan kaos kuning sedang mengutarakan kekecewaannya tanpa dilandasi sebuah pertanyaan halus atau pencarian kebenaran kenyataan hidup. santri-santri itupun hanya dapat diam. karena adabnya, kalau dimarahin tidak boleh menjawab apalagi membantah kasar. ketika sosok berwibawa itu keluar, aku pun bangkit lalu bertanya kronologi kejadiannya. ternyata sebenarnya malam ini bukan waktunya mereka untuk jaga. namun, karena jiwa mengabdi yang sudah terpatri dalam hati dan rasa cinta almamater tlah menancap dalam dada membuat mereka ikhlas menjaga malam. biarlah cerita ini berlalu bersama habis air hujan di sepertiga malam ini.
NB:gambar hanya pemanis. Beliau pak sawali adalah guru sekaligus penulis. Karya beliau berjudul topeng telah aku baca. Cerpen-cerpen beliau yang berbau mitos dan mistis serta cerita rakyat asli yang kental.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar