Makalah
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen strategis dan
Pengembangan Mutu
Pengampu:
Prof.Dr.Fatah Syukur, M.Ag

Disusun oleh:
DEWI AZZAHROH
PASCASARJANA
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pendidkan
sudah menjadi kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat . Masyarakat sudah
menyadari akan pentingnya pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian pengendalian
mutu pendidikan, bahwa pendidikan memegang peranan kunci dalam pengembangan
sumber daya manusia dan insan yang berkualitas.[1]
Dewasa
ini lembaga pendidikan islam berkembang sebagai lembaga yang semakin kompleks
sehingga ia membutuhkan organisasi yang tertata dengan baik dan benar.
Kompleksitas lembaga pendidikan islam terutama terlihat dari kebutuhan akan
pengelolaan pelaksanaan pendidikan dengan pendekat manajemen. Itulah kebutuhan
untuk menggunakan pendekatan ilmu manajemen di lembaga pendidikan khususnya
lembaga pendidikan Islam menjadi mutlak.
Kecenderungan
umum, saat ini lembaga pendidikan hanya mengandalkan anggaran tahunan sebagai
alat perencanaan masa depan organisasi, sehingga menjadi tidak sejalan antara
misi, visi, tujuan, rencana jangka panjang, rencana jangka pendek, serta
implementasinya. Selain itu, sistem perencanaan pada umumnya hanya
mengikutsertakan sebagian kecil staf lembaga pendidikan untuk membangun masa
depan lembaga pendidikan tersebut. Upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan
titik strategi dalam upaya untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.[2]
Untuk
itu, maka perencanaan strategis merupakan solusi yang dapat diandalkan segai
penentu masa depan sebuah lembaga. Perencanaan strategis telah lama digunakan
sebagai alat untuk mentransformasi dan merevitalisasi lembaga bisnis, publik,
dan non profit. Tujuan utamanya adalah untuk merespon kemungkinan terjadinya
perubahan-perubahan lingkungan di masa depan.
Perubahna tersebut sebagai akibat terjadinya ketidak tentuan keadaan
politik, ekonomi, tuntutan masyarakat dan perubahan teknologi yang terjadi
secara cepat.
Hampir
seluruh organisasi mempunyai impian (dream) dan gambaran tentang masa depan
dirinya, lebih-lebih bagi organisasi ynag berfokus pada profit oriented mereka
selalu mempunyai target tertentu untuk tahun berikutnya atau lima tahun, bahkan
sepuluh tahun bahkan ada lagi dua puluh lima tahun yang akan datang atau
mungkin sepanjang masa.[3]
Begitu pula pada lembaga pendidikan, harus memiliki impian atau tujuan sehingga
memiliki arah yang ingin dicapai, tidak sekedar jalan saja.
Untuk
mewujudkan impian tersebut, suatu lembaga pendidikan harus dapat memaparkannya
secara tertulis sebagi pedoman dalam mewujudkannya, yang lebih dikenal dengan
perancangan sistem manajemen kinerja. Adapun bentuk-bentuk dari pedoman
tersebut diantaranya visi, misi, dan tujuan lembaga pendidikan.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Dari
latar belakang diatas, makan rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah
ini, antara lain:
- Bagaimanakah
proses manajemen proses stratrgik itu?
- Apa
yang dimaksud dengan visi dalam lembaga pendidikan?
- Apa
yang dimaksud dengan misi dalam lembaga pendidikan?
- Apa
yang dimaksud dengan tujuan lembaga pendidikan ?
- Mengapa
visi, misi, dan tujuan menjadi penting bagi lembaga pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
Dalam setiap lembaga pendidikan
selalu dibutuhkan perencanaan yang tepat agar apa yang dikehendaki dapat
tercapai. Maka sangat dibutuhkan perencanaan strategik. Beryson mengemukakan
bahwa perencanaan strategi adalah sebagai upaya yang disiplinkan untukmembuat
keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan mengarahkan bagaimana suatu
organisasi atau entitas lainnya, apa yang akan dikerjakan organisasi atau
entitas lainnya dan mengapa organisasi (entitas lainnya) mengerjakan seperti
itu.[4]
Untuk mewujudkan segala tujuannya,
lembaga pendidikan harus memiliki manejemen strategic, visi, misi, dan tujuan
untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di lembaga pendidikan tersebut.
Ø PROSES MANAJEMEN
STRATEGI
Model
proses manajemen strategi meliputi tiga tahap:
1. Tahap
formulasi strategi, yaitu pembuatan pernyataan visi, misi, dan tujuan.
2. Tahap
implementasi strategi, yaitu proses penerjemahan strategi kedalam
tindakan-tindakan.
3. Tahap
evaluasi strategi, yaitu proses evaluasi apakah implementasi strategi dapat
mencapai tujuan.
Langkah
1: mengidentifikasi misi, tujuan, dan strategi organisasi saat ini. Setiap
organisasi membutuhkan misi yaitu sebuah pernyataan tentang tujuan organisasi.
Mendefinisikan sebuah misi akan memaksa manajer untuk mengidentifikasi apa yang
harus dilakukan organisasi dalam menjalankan bisnis. Selain misi juga penting
bagi manajer untuk mengidentifikasi tujuan dan strategi saat ini. Mengapa?
Karena manajer akan mempunyai dasar untuk menilai apakah mereka perlu berubah
atau tidak.
Langakah
2: melakukan analisis eksternal, menurut Pearce dan Robinson (2008) lingkungan
eksternal faktor-faktor diluar kendali perusahaan yang dapat mempengaruhi
pilihan, arah dan tindakan, struktur organisasi, dan proses internal
perusahaan. Kekuatan eksternal dapat menjadi perubahan dalam permintaan
konsumen akan produk dan jasa industrial dan konsumen. Kekuatan eksternal
mempunyai jenis produk yang dikembangkan, hakikat promosi dan strategi
sikmentasi pasar, jenis jasa yang ditawarkan dan pilihan bisnis yang akan
dibeli atau dijual. Aspek utama dalam menajemen strategic adalah suatu
perusahaan merumuskan berbagai strategi untuk mengambil keputusan dari peluang
eksternal dan meminimalkan dampak dari ancaman eksternal.
Langkah
3: melakukan analisis internal, kekuatan 10 perusahaan yang tidak dapat dengan
mudah ditandingi atau ditiru oleh para pesaing dinamakan konperensi khusus.
Rober Grand dalam buku David (2009) menyimpulkan bahwa audit internal lebih
penting. Orientasi yang terfokus secara internal tidak akan memberi sebuah
landasan yang aman bagi perumusan jangka panjang.
Ketika
lingkungan eksternal berubah, sumber daya dan kapabelitas perusahaan sendiri
kiranya merupakan landasan yang aman bagi perumusan jangka panjang. Manajer
harus mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi. Analisis
eksternal dan internal gabungan disebut analisis swot, yaitu analisi atas
kekuatan, kelemehan, peluang, dan ancaman organisasi. Setelah menganalisis swot
manajer telah siap memformulasikan strategi yang tepat yaitu mengenali kekuatan
organisasi dan peluang eksternal, melindungi organisasi dari ancaman eksternal
dan memperbaiki kelemahan kritis.
Langkah 4: memformulasikan strategi.
Pada saat memformulasikan strategi, manajer harus mempertimbangkan ralitas
lingkungan eksternal dan sumber daya yang tersedia serta kapabelitas dan
mendesain strategi yang akan membantu organisasi mencapai tujuannya. Ada tiga
jenis utama strategi yang diformulasikan manajer yaitu korporasi, bisnis, dan
fungsional.
Ø Strategi
korporasi
Strategi
korporasi adalah yang menspesifikasi apa yang akan dimasuki atau apa yang
dimasuki dan apa yang ingin dilakukan oleh perusahaan dengan bisnis tersebut.
Ini didasarkan pada misi dan tujuan organisasi serta peranan yang akan
dimainkan setiap unit bisnis organisasi.
Ø Strategi
bisnis atau kompetitif
Strategi
kepemimpinan biaya, dimana strategi menekankan pada fokus biaya
Ø Strategi
fungsional
Strategi
ynag digunakan oleh berbagai departemen fungsional organisasi untuk mendukung
strategi kompetitif.
Langkah
5: mengimplementasikan strategi. Setelah diformulakan, strategi harus di
implementasikan. Tidak peduli seberapa efektif sebuah organisasi telah
merencanakan strateginya, kinerja tetap saja akan buruk jika strategi tidak
diimplementasikan dengan benar.

Langkah
6 : mengevaluasi hasil.jadi proses terakhir yaitu mengevaluasi hasil dari
sekian proses yang telah dilewati karena evaluasi merupakan alat penting untuk
perencanaan kedepannya.
![]()


![]()

B.
VISI
DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN
Langkah
penting dalam proses perencanaan strategis adalah mengembnagkan deskripsi yang
jelas dan ringkas tentang lembaga pendidikan harus seperti apa ketika berhasil
mengimplementasikan strateginya dan mencapai seluruh potensinya. Deskripsi ini
harus menjadi visi keberhasilan organisasi. Visi keberhasilan ini lebih penting
sebagai panduan untuk mengimplementasikan strategi dan bahkan
memformulasikannya.
Istilah
visi dan misi sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Namun juga masih
tidak sedikit yang belum bisa membedakan antara visi dengan misi. Padahal
sesungguhnya visi dengan misi ini berbeda, meskipun tujuannya sama, yaitu untuk
mewujudkan tujuan lembaga pendidikan.
Visi
merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian suatu
organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Visi mencanangkan
masa depan perusahaan untuk tiga sampai sepuluh tahun ke depan, yang merupakan
hal yang sangat krusial bagi perusahaan untuk menjamin kelestarian dan
kesuksesan jangka panjang.[5]
Syarifudin
Hasan dalam bukunya mengatakan bahwa visi merupakan cita-cita masa depan yang
ada dalam bentuk pendiri yang kira-kira mewakili seluruh anggota perusahaan.[6]
Dirgantoro mendifinisikan visi sebagai suatu pandangan yang jauh tentang
perusahaan, tujuan perusahaan, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai
tujuan tersebut.[7]
Visi
adalah kondisi masa depan yang masih abstrak, tetap merupakan konsepsi yang
dapat dibaca oleh setiap orang.[8]
Ini berarti visi merupakan suatu pikiran yang melampui realitas sekarang,
sesuatu atau keadaan yang diciptakan yang belum ada sebelumnya dan akan
diwujudkan oleh seluruh anggota organisasi. Visi memberikan gambaran kondisi
yang akan dicapai oleh oragnisasi di masa yang akan yang datang, selanjutnya
Bryson mengemukakan bahwa sesungguhnya visi memberikan kerangka dasar tentang gambaran
organisasi di masa yang akan datang.[9]
Visi menggambarkan akan menjadi apa
suatu lembaga penedidikan di masa depan. Penetapan visi harus melihat kemampuan
dan keadaan internal lembaga pendidikan. Semua organisasi, termasuk organisasi
sekolah mempunyai visi. Visi adalah agenda tujuan sebagai prestasi yang harus
dicapai dalam aktifitas sekolah. Sejalan dengan itu proses perumsan visi
dimulai dengan ide-ide kreatif dan dengen menciptakan ide-ide baru dengan
menggali tuntutan lingkungannya. Apabila visi telah dirumuskan dengan baik dan
sempurna, selanjutnya dirumuskan statemen misi dan statemen misi dijadikan
acuan menyusun rencana dan program sekolah.
Bertitik tolak pada pandampangan
tersebut, visi sekolah haruslah konsisten dengan nilai dan daya-daya perilaku
sekolah yang menjadi ciri has sekolah, stabil, berubah kearah yang lebih baik,
dan selalu menjadi subjek evaluasi atas dasar kecerdasan penghayatan
nilai-nilai moral, akademis, ilmiah, dan sistematis dalam memecahkan berbagai
problematika sekolah. Dengan kata lain visi merupakan endapan dari suatu sistem
nilai dan kaidah yang diberlakukan.[10]
Dalam sebuah lembaga organisasi,
visi merupakan sarana untuk:
1.
Mengomunikasikan alasan
keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.
2.
Memperhatikan hubungan
antara organisasi dengan stekholders (sumber daya manusia, konsumen, dan pihak
lain yang terkait)
3.
Menyatakan sasaran
utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.
Untuk
mampu menjadi gambaran yang ingin diwujudkan suatu organisasi, pernyataan visi
perlu diekspresikan dengan baik agar mampu menjadi tema yang mempersatukam
semua unit organisasi, menjadi media komunikasi dan motivasi semua pihak, serta
sebagai sumber kreativitas dan inovasi organisasi. Oleh sebab itu, menurut Weick
dalam David, dalam perumusan dasar-dasar visi keberhasilan sebaiknya:[11]
1.
Mengingat bahwa dalam
banyak kasus, visi keberhasilan tidak diperlukan untuk memperbaiki keefektifan
organisasi.akan tetapi mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk
menghadapi isu strategis dapat merupakan hal yang dapat menghasilkan perbaikan
kinerja sebagian organisasi.
2.
Sebelum visi
keberhasilan muncul, organisasi perlu merumuskan beberapa lingkaran dan
langkah-langkah perencanaan strategi sebelumnya.
3.
Visi keberhasilan harus
meliputi item-item hasil yang diinginkan.
Organisasi harus berpikir
mengenai versi dan visi sukses yang dipublikasikan dalam rencana strategis
menjadi suatu hal yang nyata.
4.
Visi keberhasilan harus
sebanyak mungkin timbul dari keputusan dan tindakan yang lalu. Keputusan dan
tindakan masa lampau seringkali menjadi catatan konsensus tentang bagaimana
organisasi itu dan harus mengerjakan apa. Mendasarkan suatu visi pada konsensus
yang telah ada sebelumnya menghindarkan konflik yang tidak perlu. Realisasi masa
depan baru akan lebih mudah jika masa depan itu adalah kelanjutan dari masa
lampau dan masa sekarang.
5.
Suatu visi keberhasilan
harus menjadi sesuatu yang inspirasional.apa yang mengilhami orang adalah
deskripsi yang jelas mengenai masa depan yang diinginkan dengan didukung oleh
keyakinan yang nyata. Visi yang inspirasional memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Memfokuskan
kepada masa depan yang lebih baik
b. Mendorong
harapan dan impian
c. Dibangun
berdasarkan penafsiran kembali sejarah dan budaya untuk menarik cita-cita dan
nilai-nilai umum organisasi
d. Menjelaskan
arah dan tujuan organisasi
e. Menyatakan
hal-hal yang positif
f. Menekankan
keunikan dan kekhasan kompetensi organisasi
g. Menekankan
keunikan dan kekhasan kompetensi organisasi
h. Menggunakan
gambar, imaji, dan metafora kata
i. Mengomunikasikan
antusiasme dan kegembiraan yang menyala-nyala serta memupuk komitmen dad
dedikasi.
6.
Visi keberhasilan yang
efektif adalah yang mewujudkan tingkat keteganagan yang tepat untuk
mendorong perubahan organisasi yang
efektif.
7.
Satu cara yang berguna
untuk mulai mengkonstruksikan visi keberhasilan adalah mempunyai anggota tim
perencanaan strategis sebagai individu yang mempersiapkan rancangan visi,
kemudian saling mengungkapkan dan mendiskusikan respon mereka
8.
Suatu proses normatif
harus digunakna untuk mengulas visi keberhasilan. Biasanya rancangan diulas
oleh anggota tim perencanaan para pembuat keputusan, anggota dewan yang
berkuasa, dan para stekholder luar yang terpilih.
9.
Pertanyaan visi
dikalangan para pembuat keputusan kunci sangat diperlukan, tetapi tidak
diperlukan secara mutlak.
10. Karena
visi keberhasilan membantu memandu keputusan dan tindakan organisasi, maka visi
keberhasilan harus disebarkan dan dibahas secara luas.
Gambaran
tersebut tentunya harus didasarkan pada landasar yuridis, yaitu undang-undang
pendidikan nasional dan sejumlah peraturan pemerintahannya, khususnya jumlah
pendidikan nasional sesuai jenjang dan jenis sekolahnya dan juga sesuai dengan
profil sekolah yang bersangkutan.dengan kata lain, visi sekolah harus tetap
dalam koridor kebijakan pendidikan nasional, tetapi sesuai dengan kebutuhan
anak dan masyarakat yang dilayani. Tujuan pendidikan nasional sama profil
sekolah khususnya potensi dan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah tidak
selalu sama. Oleh karena itu dimungkinkan sekolah memeliki visi yang tidak sama
dengan sekolah lain, asalkan tidak keluar dari koridor nasional yaitu tujuan
pendidikan nasional yang berbunyi “pendidikan nasioanl berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan memjadi warga
negara yang demokratif serta bertanggungjawab.[12]
Visi
yang baik memiliki kriteria sebagai berikut:[13]
1. Menyatakan
cita-cita atau keinginan perusahaan di masa depan
2. Singkat,
jelas, fokus, dan merupakan standar of excellence,
3. Realistis
dan sesuai dengan komponen organisasi
4. Atraktif
dan mampu menginspirasikan komitmen serta antusiasme
5. Mudah
diingat dan dimengerti seluruh karyawan serta mengesankan bagi pihak yang
berkepentingan
6. Dapat
ditelusuri tingkat pencapaiannya.
Sebagai
contoh, sebuah sekolah yang terletak di perkotaan, sekolah itu berada di
lingkungan pesantren dan sebuah yayasan islami. Mayoritas siswanya berasal dari
keluarga mampu dan hampir seluruh lulusannya ingin melanjutkan ke sekolah yang
lebih tinggi, merumuskan visinya sebagai berikut:
BERAKHLAK, BERILMU, BERINTEGRITAS
Visi yang pada umumnya dirumuskan dalam kalimat
yang filosofis seperti contoh tersebut,
sering kali memiliki angka tafsir. Tipa orang menafsirkan secara berbeda-beda,
sehingga dapat menimbulkan perselisihan dalam implempentasinya. Bahkan jika
terjadi pergantian kepala sekolah yang baru tidak jarang memberi tafsir yang
berbeda dengan kepala sekolah sebelumnya. Oleh karena itu, sebaiknya diberikan
indikator sebagai penjelasan apa yang dimaksud oleh visi tersebut. Sebagai
contoh, visi yang dituliskan UNGGULAN DALAM PRESTASI BERDASARKAN IMAN DAN
TAQWA. Diberi indikator sebagai berikut:
1. Unggulan
dalam perolehan KKM
2. Unggulan
dalam persaingan melanjutkan pendidikan diatasnya
3. Unggulan
dalam karya ilmiah
4. Unggulan
dalam kreativitasnya
5. Unggulan
dalam kesenian
6. Unggulan
dalam olahraga
7. Unggulan
dalam disiplin
8. Unggulan
dalam aktivitas keagamaan,dan
9. Keunggulan
dalam kepedulian sosial
C.
MISI
DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN
Visi
selalu dan pasti digandengkan bersama dengan misi. Bahkan ada yang menganggap bahwa
visi dan misi adalah “ kakak berdik”. Dalam pandangan ini tidak selamanya
salah, dan memang visi dan misi memiliki hubungan dekat.
Hendrawan
Supratikno mengartikan misi adalah merupakan rangkaian utama yang harus
dilakukan organisasi untuk mencapai visinya. Sebagaimana yang dikutipnya dari
Peter Drucker, untuk merumuskan misi, organisasi harus mengajukan pertanyaan: “
in what businesses are we in or should
be in”(dalam bisnis apa kita berada, atau seharusnya ada). Jika bisnis adalah
hasil interaksi antara tiga faktor yaitu pasar, produk, dan teknologi, maka
pertanyaan tentang misi pertama-tama berkaitan dengan ranah (domain )kegiatan
yang akan dilakukan organisasi[14]
Muniarti
mengatakan bahwa misi merupakan sebuah diskripsi alasan bagi eksistensi sesuatu
organisasi, yang mencerminkan tujuan fundamentalnya. Ia merupakan prinsip yang
mengarahkan, yang merangsang proses perumusan tujuan strategi[15]
Syarifuddin
mendefinisikan misi sebagai penjabaran secara tertulis mengenai visi agar misi
menjadi mudah dimengerti atau jelas bagi seluruh staf perusahaan aats [16]
Moeheriono mendefinikan misi adalah kegiatan yang harus dilaksanakan atau
fungsi yang harus diemban oleh suatu organisasi untuk merealisasikan visi yang
telah ditetapkan.[17]
Dari
berbagai pengertian yang telah disampaikan beberapa pakar diatas, penulis dapat
menarik kesimpulan bahwa misi adalah suat langkah yang ditempuh oleh suatu
lembaga pendidikan dalam rangka mewujudkan visi yang telah dirumuskan dan misi
ini dalam bentuk tertulis. Sehingga kemunculan visi lebih dahulu, baru disusul
misi.
Dari
pengertian tersebut, tampaknya ada lima unsur penting yang tidak dapat
dilupakan dalam merumuskan misi suatu organisasi, yaitu: [18]
1.
Produk apa atau
pelayanan apa yang akan ditawarkan. Apakah itu pendidikan anak-anak, pendidikan
tinggi, dan lain-lain.
2.
Apakah produk atau
pelayanan yang ditawarkan itu dapat memenuhi kebutuhan tertentu yang memang
diperlukan dan bahkan dicari karena belum tersedia selama ini
3.
Misi harus secara tegas
menyatakan publik mana yang akan dilayani.
4.
Bagaimana kualitas
barang atau pelayanan yang hendak ditawarkan.
5.
Aspirasi apa yang
diinginkan di masa yang akan datang.
Unsur-
unsur misi tersebut selaknya dinyatakan sebagai keyakinan untuk sungguh sungguh
dilaksanakan oleh organisasi, tidak hanya semboyan tanpa makna. Oleh karena
banyak hal yang perlu diketahui oleh masyarakat yang dilayani, rumusan misi
tidak dapat terdiri dari satu kaliamt atau pernyataan singkat saja.
Beberapa
manfaat dari keberadaan misi yaitu:[19]
1.
Terjadinya kesatuan dan
kebulatan tujuan perusahaan yang jelas dan terarah sesuai visi,
2.
Tersedianya dasar
alokasi sumber daya dan dana korporasi yang dibutuhkan
3.
Tersedianya dasar
pengembangan iklim organisasi dan motivasi kerja karyawan,
4.
Tersedianya dasar
identifikasi diri dan evaluasi bagi seluruh karyawan,
5.
Terfasilitasinya proses
penerjemahan tujuan kedalam struktur organisasi,
6.
Sebagi dasar dalam
evaluasi kinerja perusahaan.
Rumusan
misi yang baik dan mempunyai beberapa kriteria dan ciri-cri sebagai berikut:[20]
1.
Rumusannya sejalan dan
searah dengan visi satuan organisasi dan satuan kerja
2.
Rumusannya jelas,
terang, dengan bahasa yang lugas, tegas, dan enak dibaca
3.
Rumusannya
menggambarkan pekerjaan atau fungsi yang harus dilaksanakan
4.
Isinya dapat
dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu atau mempunyai target terealisasi
5.
Memungkinkan untuk
perubahan atau penyesuaian dengan perunahan visi (fleksibel)
Contoh
pembuatan visi dan misi adalah sebagai berikut, misalnya sebuah sekolah yang
memiliki visi” UNGGUL DALAM PRESTASI DAN IMTAQ” merumuskan misinya sebagai
berikut:
1.
Melaksanak pembelajaran
dan bimbingan secara efektif, sehingga setiap siswa berkembang secara optimal,
sesuai dengan potensi yang dimiliki.
2.
Menumbuhkan semangat
keunggulan secara intensif kepada kepada
seluruh warga sekolah.
3.
Mendorong dan membantu
setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan
secara optimal.
4.
Menumbuhkan penghayatan
terhadap ajaran agama yang dianut dan juga budaya bangsa sehingga menjadi
sumber kearifan dalam bertindak
5.
Menerapkan manajemen
partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok kepentingan
yang terkait dengan sekolah (stakeholders).
Misi
merupakan” alat yang tak ternilai” untuk mengarahkan perumusan strategi dan
pelaksanaan strategi. Ia merupakan pondasi yang konstan dalam pengambilan
keputusan strategik. Misi sebenarnya menjelaskan hal-hal yang sangat
fundamental, merupakan falsafah dasar dari organisasi, sebagai pendorong
lahirnya inspirasi-inspirasi yang penuh motivasi. Misi juga penting karena
suatu perumusan tujuan dan sasaran yang realistik hanya mungkin dilakukan
jikalu terlebih dahulu misi organisasi sudah teridentifikasi.
Merumuskan misi organisasi terkadang
dianggap mudah, tetapi kesulitannya lebih banyak ketimbang gampangnya. Para
pengambil keputusan trategik sering mampu merumuskan misi itu dengan baik,
tetapi segera timbul kesulitan dalam mengkoordinasikan tindakan-tindakan
manajerial. Inilah peranan kritis dari berbagai organisasi karena banyak
organisasi yang gagal merealisasikan misinya. Misi, karenanya harus mendarat
lebih dahulu dalam hati semua orang yang bekerja dalam organisasi itu. Jadi
apabila dikatakan bahwa salah satu misi dalam lembaga pendidikan adalah
meningkatkan kualitas, maka seharusnya semua orang yang terlibat dalam proses
itu memahami sungguh-sungguh apa yang dimaksud dengan meningkatkan kualitas itu
dan senantiasa berusaha menuju kesana, sementara manajemen puncak harus pula
komit untuk mempertahankan tekad itu.
Terkait dengan hal tersebut, ada
dasarnya misi dibuat untuk jangka waktu tiga sampai lima tahun dan dapat
berubah. Perubahan itu bisa dilakukan jikalau terjadi perubahan penting dalam
lingkungan, misalnya ada peluang yang harus dikejar, ada ancaman, atau
tantangan yang sangat berarti. Bisa juga terjadi perubahan apabila manajemen baru
menghendakinya. Misi juga dapat bertahan bertahun-tahun tanpa ada perubahan,
yaitu jika kondisi lingkungan dan pihak-pihak terkait masih menghendaki
demikian. Jadi misi bukanlah dogma yang tidak bisa berubah.
D.
PENTINGNYA
VISI, MISI, DAN TUJUAN LEMBAGA PENDIDIKAN
Visi, misi, dan tujuan adalah kesatuan yang tidak
dapat terpisahkan. Ketiganya penting untuk dimiliki oleh sebuah organisasi baik
kecil maupun besar. Lebih-lebih lembaga pendidikan sebagai pelaksana program
nasional dalam “ Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Mengapa penting? Karena visi
dan misi merupakan landasan awal dalam merumuskan oerencanaan strategis. Visi
memberikan imajinasi atau gambaran masa depan suatu organisasi. Dia berperan
sebagai pemberi arahan dan motivasi anggota organisasi. Misi adalah penjabaran
dari visi yang memberikan produk atau pelayanan kepada publik. Misi berperan
untuk mengenalkan para anggota organisasi terhadap peran dan fungsi mereka.
Tujuan merupakan penjabaran dari pernyataan misi, tujuan adalah sesuatu yang
akan dicapai atau dihasilkan dalam waktu yang telah ditentukan. Dalam
perencanaan strategis, rumusan tujuan akan mengarahkan rumusan sasaran,
strategi, program, dan kegiatan dalam merealisasikan misi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah
penulis paparkan diatas, saya dapat menarik benang merah bahwa, untuk meningkatkan mutu sekolah, hal
yang harus dimiliki sebuah sekolah adalah perencanaan strategis. Perencanaan
strategis tersebut diwujudkan kedalam visi, misi, dan strategi sekolah.
Visi merupakan tujuan jangka panjang
yang ingin dicapai. Sedangkan misi adaalh langkah atau cara untuk mencapai visi
tersebut.sedangkan strategi adalah langkah untuk menjadikan lembaga pendidikan
tersebut lebih bermutu, diantaranya adalah dengan merumuskan visi dan misi
sekolah
Tujuan merupakan penjabaran dari
pernyataan misi, tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam
waktu yang telah ditentukan. Dalam perencanaan strategis, rumusan tujuan akan
mengarahkan perumusan sasaran, strategi, program, dan kegiatan dalam
merealisasikan misi.
Setiap lembaga pendidikan (dalam hal
ini sekolah) memiliki rencana strategis yang menghubungkan antara situasi
sekolah tahun ini dengan situasi sekolah lima tahun kedepan dengan
memperhatikan aspek-aspek pemerataan mutu, efisiensi, relevansi, dan tata
kelola. Dengan demikian seluruh tindakan atau program yang direncanakan dapat
terstruktur dan terevaluasi dengan baik
B.
SARAN
Penulis
menyadari adanya banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Karena sejatinya
manusia tak lepas dari salah dan dosa maka dari itu, kritik dan saran dari para
pembaca sangan ditunggu dengan senang hati. Demi meningkatnya kualitas menulis
sang penulis. Semoga bermanfaat.amiin.
DAFTAR PUSTAKA
Crown
Dirgantoro, Manajemen Strategik konsep,
Kasus dan Implementasi, Jakarta: PT Grasindo, 2001
Dermawan
Wibisono, Manajemen Kinerja Konsep,
Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan, Jakarta: Erlangga,
2011
Fread
R. David, Strategi Management, New
York: Pearson Education, 2009
Hendrawan
Supratikno, Edfanced Strategic
Management: Back To Bassic Approach, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,
2003
J.
Salusu, Pengambilan Keputusan Strategik,
Jakarta: PT Gramedia Widiyasarana Indonesia, 1996.
Jhon.
Brayson, Strategic Planning For Public
and Nonprofit Organisation, Sanfransisco: Jossey-Bass, 1998
Khori,
Ahmad, Manajemen Stratregik dan Mutu
Pendidikan Islam, Manageria: jurnal Manajement Pendidikan Islam, Volume I,
No.1, Mei 2016, P-ISSN: 2502-9233, E-ISSN:2503-4383
Moeheriono,
Indikator Kinerja Utama (IKU),
Perencanaan, Aplikasi dan Pengembangan, Jakarta: Rajawali Pers, 2012
Murniati,
Manajemen Stratejik” Peran Kepala Sekolah
dalam Pemberdayaan”, Bandung: Citapustaka Media Perintis. 2008
Sejarifuddin
Hasan, Manajemen Strategik, Jakarta:
Globak Future Institut, 2013
Syaiful
Sagala, Manajemen Strategik dalam
Peningkatan Mutu Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2007, 134-135.
Syaodih
Sukma Dinata, Nana, dkk. Pengendalian
Mutu Pendidikan Sekolah Menengah, Bandung: Refika Aditama, 2006
UU.
No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3
[1]. Nana Syaodih
Sukmadinata, dkk. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah (Bandung:
Refika Aditama, 2006),1.
[2] Ahmad Khoiri, Manajemen
dan Mutu Pendidikan Islam, Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Volume
I. Nomor 1, Mei 2016, P-ISSN: 2502-9223, E-ISSN:2503-4383,82.
[3]. Moeheriono, Indikator
Kinerja Utama (IKU). Perencanaan, Aplikasi dan Pengembangan, (Jakarta:Rajawali
Pers, 2012), I.
[4]. John M. Bryson,
Strategic Planning for Public and Nonprofit Organization, (San Fransisco:
Jossey-bass, 1998), 23.
[5] Dermawan Wibisono, Manajemen
Kinerja (Konsep, Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan), (Jakarta:
Erlangga. 2011), hlm.43.
Sjarifuddin Hasan, Manajemen Strategik, (Jakarta: Global Future Institute, 2013),
hlm.83
[6] Sjarifuddin Hasan, Manajemen Strategik, (Jakarta: Global Future
Institute, 2013), hlm.83
[7]. Crown Dirgantoro, Manajemen Strateguk Konsep, Kasus &
Implementasi, (Jakarta: PT Grasindo, 2001), hlm. 24.
[8]. J. Salusu, Pengambilan Keputusan Stratejik, (Jkarta: PT. Gramedia
Widiasrana Indonesia, 1996), hlm. 130.
[9]. John M. Bryson, Strtaegic Planning.... hlm. 65.
[10]. Syaiful Sagala, Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu
Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2007), hlm. 134-135.
[11] Fred R. David, Strategi Management, (New York: Pearson Education,
2009), hlm.56
[12] UU.Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional Pasal3
[13] Dermawan Wibisono, Manajemen Kinerja...hlm 43
[14] Hendrawan Supratikno, Advanced Strategic Manajement: Back to Basic
Approach,(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003). Hlm.45
[15] Muniarti, Manajemen Strategik “ Peran Kepala Sekolah dalam
Pemberdayaan” , ( Bandung Citapustaka Media Perintis, 2008), hlm.106
[16] Dermawan Wibisono, Manajemen Kinerja hlm.43
[17] Moeheriono, Indikator Kinerja Utama (IKU), Perencanaan, Aplikasi, dan
Pengembangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm.15)
[18] J. Salusu, Pengambilan Keputusan Stratejik, Hlm.121-122.
[19] Moeheriono, Indikator Kinerja, hlm.16
[20] Moehariono, Indikator Kinerja, hlm.19

Tidak ada komentar:
Posting Komentar