Selasa, 29 April 2025

terima kasih dedaunan

 




dahulu saat aku masih MTs aku sering membantu ibu berkebun di kebun milik orang. pemilik kebun tersebut apabila ditarik garis nasabnya masih saudara denga kami. beliau tinggal di pusat kota Kendal. namun jarak rumah ke kebun lumayan melelahkan untuk wanita paruh baya. aku yang masih berusia belasan tahun kala itu belum tahu arti perjuangan pengorbanan dan juga cita-cita. sekarang aku sudah mulai memahaminya meskipun sedikit. oke kembali ke dedaunan. dari dedaunan di kebun itulah aku bisa mengantongi uang di sakuku tiap pagi saat hendak berangkat sekolah,jika tidak maka aku tak mampu membayangkannnya. aku menaiki pohon JATI. memetik daun2 hijau itu lalu melepaskanny begitu saja. membiarkn mereka terbang lalu berjatuhan di atas tanah kebun yang tak mulus itu.di bawah telah siap ibuku untuk mengambil dan menumpuk daun-daun jati tersebut. setelah selesai diikatlah dengan tidak terlalu kencang daun-daun jati terus. tidak berhenti disitu saja, ibuku menyuruhku duduk diam sedangkan beliau melanjutkan aktivitas berkebun dengan membersihkan rumput-rumput liar yang mulai tinggi. sesekali aku dipanggil saat beliau butuh bantuan, misalnya mau merobohkan pohon pisang. Lalu aku duduk lagi di pinggir kebun. ibu berpindah ke bagian timur kebun yang berbatasan dengan kebun milik kepala sekolahku dulu. Ibu memotong daun pandan. diikat seukuran kepalan tangan. kadang lebih besar. tiap ikat dihargai 500 perak. terima kasih dedaunan. aku bisa beli jajan di depan gerbang madrasah karena membantu ibu menjual daun pisang,jati, dan juga pandan ke pasar. masya Allah tabarokallah. tidak ada orang yang mau dilahirkan dalam keadaan miskin. namun kita harus bersyukur dan sabar dalam keadaan apapun yang kita alami.

Dan cerita ini selalu kuulang untuk memotivasi anak-anak didikku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

selasa membara 7 april 2026

 allahumma yaa kaafiyal balaa', ikfinal balaa' qobla nuzuulihi minassamaa'. ya allah y Allah ya Allah . dapat buku dan kaos give...