PESANTREN CAHAYA KEHIDUPANKU
Namaku Zayyin. Aku lahir di keluarga yang sangat sederhana. Bapak Ibuku juga bukan orang kaya. Kami hidup dalam kesederhanaan. Bagi kami, bahagia itu sederhana. Bahagia itu saat melihat orang lain bahagia, baik karena kita maupun karena hal lainnya. Sejak kecil, orangtuaku mendidikku dengan ketat terutama dalam hal agama. Jika aku menangis karena tidak mau mengaji, tak jarang Bapakku melontarkan kayu rotan ke telapak tangan/ pantatku. Mereka memasukkanku ke pondok pesantren semenjak duduk di kursi Madrasah Ibtidaiyyah. Disana, aku juga belajar di Madrasah Diniyyah Awwaliyah (MDA) dan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPQ). Ketika lulus MI sekaligus wisuda TPQ (khatam jilid 6 & tahfidz Juz ‘Amma), ibuku berpesan “Nak, bercita-citalah tinggi dan berusahalah untuk meraihnya”. Pesan itu selalu kuingat selama hidupku. Tahun 2008 aku lulus dengan hasil yang memuaskan dari Madrasah Tsanawiyah Kendal. Tiga tahun kemudian aku berhasil wisuda Madrasah Aliyah Negeri Kendal sekaligus wisuda al qur’an bin nadhor 30 Juz di Ponpes Nurul Qur’an Sukolilan Patebon Kendal. Di saat itu pula, datang konflik dalam batinku. Hendak kemanakah aku…?. Di satu sisi, aku ingin mulai menghafal Kalam-Nya. Menjadi khafidhoh yang menjaga seluruh kitab suci dengan sepenuh hati. Di sisi lain, aku ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi sebagaimana yang disarankan oleh guru Bimbingan dan Konselingku di Madrasah. Akhirnya aku mengambil langkah setelah berdiskusi dengan orangtua dan mendirikan sholat istikhoroh berulang kali. Tanpa repot dan berangkat ke Semarang, aku terdaftar sebagai calon mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang. Aku masuk kesana melalui jalur prestasi dan Aku diterima di jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA).
Kini , Aku berjalan menyusuri trotoar menuju kampus hijauku. Kali ini bukan untuk kuliah di kampus 2, melainkan di kampus 1. Aku hendak mencoba berhijrah ke jurusan MPI program pascasarjana disini. Sebelum aku disini aku mengalami banyak peristiwa yang sungguh luar biasa dan tak terlupakan. Kira-kira sebulan yang lalu sahabatku memberi info kepadaku bahwa UIN Walisongo membuka pendaftaran program pasca sarjana (S2) dan program doctor (S3). Hatiku berbunga-bunga. Melanjutkan kuliah program pasca sarjana merupakan impianku dua tahun yang lalu, kala aku memakai toga dan memperoleh gelar S.,Pd.,I. Namun aku bingung. Berat hatiku melepas raga ini dari penjara suci yang telah aku tempati selama satu setengah tahun, yaitu sejak sebelum dan sesudah aku menikah. Aku juga berat untuk berpisah dengan anak-anak didikku yang sangat ku sayangi. Akhir-akhir ini, aku menjadikan kantor guru sebagai kamar keduaku. Aku menyendiri disana dengan tujuan agar orang-orang di sekitarku terbiasa jauh denganku. Terbiasa hidup tanpaku. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam disana. Lalu ketika jam menunjukkan pukul dua belas malam atau lebih, barulah aku pulang ke asrama dan merebahkan tubuhku di atas kasur busa.
Hari terus berlalu. Deadline untuk mendaftar S2 semakin dekat. H-3 aku nekat daftar via online. Aku masih ragu tentang keadaanku. Benar- benar bimbang diri ini. Aku ceritakan semua yang kurasakan kepada suami tercinta pada hari minggu. Hari dimana aku bertemu dengannya dan keluarga. “keluar?, tidak?, keluar?, tidak?.” Ku debatkan dalam lamunan. “Dinda.” Panggilan khusus itu membuyarkan pikiran diantara lamunanku saat itu. “Iya Kanda. Ada apa?” “Sudahkah kau temukan keputusan antara perdebatanmu.” “Belum.” “Untuk apa kau memikirkan semua itu. Sedangkan takdir tidak kau ketahui sedikitpun. Dan takdir pun bisa berubah kapanpun.” “Lalu dengan cara apakah aku akan menemukan takdirku yang sebenarnya?” “Doa. Karena dengan cara itulah kamu akan menemukan jalan takdirmu yang sebenarnya....bahkan takdir takdir yang lain yang bagus atau tidak.. yang belum kamu ketahuipun akan kau ketahui semuanya..dan itu semua akan terjadi pada waktu yang tepat..sesuai dengan yang kau minta pada doa sucimu. ”
Seminggu kemudian, ku beranikan diri menemui ketua yayasan. Ku ketuk pintu ruang beliau, dan disitu aku merasa sangat tergesa-gesa akan pemikiran yang belum tetap. Saat itu keputusan satu-satunya adalah “resign” dari yayasan Darul Mujtahidin ini dengan alasan takut tak mampu membagi waktu untuk kuliah dan mengasuh santriwati-santriwati disini. Serangkai kata-kata yang sudah kuukir sebelum menemui beliau tak tersampaikan secara mulus, melainkan terbata-bata, sangat lirih namun penuh ketawadluan. Semua rangkaian kata-kata yang seharusnya aku ucapkan kala itu kugugurkan secara tidak sengaja seiring dengan sikap tawadlu’ku ini. hingga pada akhir kalimatku kuucapkan beribu maaf untuk beliau. Sungguh keputusan terbesar yang pernah kuambil tanpa berdiskusi dengan orangtua. “Apakah kau sudah mengetahui apa yang akan terjadi dengan keputusan ini? ”. Apa yang ada di pikiranku yang sebelumnya menjelma menjadi gambaran anak-anak yang sangat kusayangi. Tak tega aku mengatakannya. Sungguh! Sehari tanpa mereka, hatiku gusar. “ Untuk saat ini, saya belum bisa memutuskan jawaban dari surat resign anda, maka dari itu, pikirkanlah terlebih dahulu untuk keputusan tersebut, karena sesungguhnya kami masih dan sangat butuh keberadaanmu disini.” “Geh.”
Ku ucapkan salam perpisahan untuk orang-orang terdekatku. Permohonan maaf atas segala salah juga kusampaikan. Saat itu, bulir-bulir tetesan air mata membasahi pipiku. Mereka berkata bahwa ketiadaanku adalah kesepian bagi mereka. Keunikanku pun akan sirna bersama kepergianku. Salah satu dari mereka berpesan padaku, “Ustadzah, jangan pernah Kau hilangkan kebiasaan istimewa yang membuat senyum dari seseorang terpampang begitu saja .””Okey. Don’t forget me please!”.
Esoknya matahari bersinar dengan cerah. Hijaunya permadani belakang rumah sedap dipandang. Katanya, menatap warna hijau dari sesuatu/ dedaunan/ barisan padi di pagi hari mencegah sakit mata. Ku sambut pagi dengan bahagia sebagaimana hari-hari sebelum aku mengajukan surat itu. Doaku pagi itu adalah lolosnya aku dari soal-soal tes seleksi masuk program pascasarjana. Sulitnya TOEFL (Test Of English as Foreign Language) membuatku sangat pusing dan tak kuat berjalan. Jangankan berjalan, berdiri pun tak kuasa.
Allah Maha memberi jalan. Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa-apa yang kita inginkan. Allah lah yang memberi kesempatan kepadaku untuk melanjutkan studi. Hari ini, aku menemui ketua yayasan lagi. Tujuanku untuk menyampaikan apa yang ditunjukkan Allah padaku setelah usai qiyamullail dan do’a di sepertiga malam terakhirku. Aku melangkah dari kantor menuju ruang beliau dengan penuh senyuman. Langkahku terhenti kala aku melihat ada dua orang tamu masuk kesana. Kutunda niatku untuk kesana.
Adzan dhuhur berkumandang. Santri dan santriwati menuju masjid untuk menunaikan sholat dhuhur berjama’ah disambung dzikir, wirid, dan setoran hafalan kosakata bahasa asing. Aku juga kesana. Beberapa santriwati kaget melihatku berdiri diantara mereka. Terlihat ekspresi senang dari mereka. Perlahan tapi pasti, aku mendekat ke ketua yayasan. “Bu, saya tidak jadi keluar. Bolehkah saya minta surat itu kembali?”. “O, tentu saja. Alhamdulillah. Terima kasih ustadzah. Anak-anak pasti senang mendengarnya.” “Alhamdulillah. Aamiin.” Jawabku singkat. Aku bukanlah guru favorit disini. Sifat kekanakan masih melekat padaku. Aku hanyalah guru yang jauh dari kesempurnaan. Karenanya aku sering berpesan kepada seluruh anak didikku, “guru iku digugu lan ditiru, sing apik.” Keluar dari masjid, anak-anak berlarian padaku dan kami bersalaman. Mereka bahagia, haru yang kurasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar