BAGI-BAGI PIAGAM LITERASI
Menulis adalah hobiku sejak umur 12 tahun. Aku terbiasa menulis buku harian. Tahun demi tahun berlalu aku senang menulis puisi dan cerpen. Ketika aku kuiah, aku menulis buku harianku dalam Bahasa Inggris atau Arab karena kebetulan tempat tinggalku adalah asrama bilingual dan aku belajar di jurusan PBA UIN Walisongo Semarang. Bakatku menulis ini didukung sekali oleh orangtuaku. Sebagai contoh mereka membelikanku buku batik tebal untuk menuliskan segala apa yang ingin kutulis. Kisah bahagia, sedih, aktifitas sehari-hari, pekerjaan rumah, pesan dari guru, kata-kata mutiara, pesan singkat penting, dan lain-lain
Dengan lomba menulis, aku merasa bangga karena bisa berkarya. Setelah lama aku tidak mengikuti lomba yang sama. Terakhir aku mengikti lomba menulis ini adalah di tahun 2014. Cerpen dalam rangka hari pendidikan. Meskipun tidak menang dan tidak mendapatkan sertifikat, aku tetap senang karena aku mendapatkan pengalaman. Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik?
Dengan menulis aku mendapatkan banyak manfaat. Aku mendapatkan uang 50.000 untuk 1 buah puisi plus 1 buah cerpen. Uang yang sangat banyak pada zaman aku duduk di bangku SMA. Waktu itu setiap sebulan sekali majalah sekolah mempersilahkan seluruh akademisi untuk mengirimkan karyanya. Aku mengirimkan puisi berjudul sepucuk doa untuk adik tercinta dan cerpen berjudul Dona. Aku senang sekali dan sedikit kaget pas karyaku itu dimuat.
Dengan mengikuti lomba menulis, aku bisa pamer pada anak ddikku dengan tujuan mereka iri padaku. Bukankah iri untuk hal yang baik itu perlu. Ini juga untuk memotivasi mereka agar membisakan budaya literasi. Membaca, menulis, dan mengetik plus mengirim. Di tahun 2018 ini, bertepatan dengan masuknya aku di program pascasarjana, aku pun kembali menggeluti dunia menulis, khususnya puisi dan cerpen. Aku mencari-cari lomba online, kemudian aku membagi informasinya kepada murid-muridku. Banyak tanggapan positif dari mereka. Mereka aku suruh menulis, aku yang mengetik dan mengirimkan karya.
Kini, dengan mengikuti lomba menulis, aku bisa bagi-bagi piagam. Sedekah itu tidak melulu berupa uang dan senyum (ibadah), namun aku bersedekah dengan piagam-piagam tingkat nasional itu. Murid-muridku terlihat senang dan antusias. Sampai detik ini sudah sekitar 16 puisi dari mereka lolos seleksi dan akan dibukukan di penerbit yang berbeda-beda dengan tema yang tak sama.
Ada ungkapan yang menyatakan “jangan tidur sebelum membaca buku, jangan mati sebelum menulis buku”. Sedangkan kata mutiara buatanku berbunyi “berkaryalah selagi masih hidup, bekerjalah mumpung udara masih dihirup, beribadahlah sebelum habis kontrak masa hidup”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar