TRADITIONAL
FOOD IN THE EYES OF GEN Z
Indonesia merupakan salah satu negara yang
memiliki budaya yang tinggi di dunia, salah satunya adalah kuliner tradisional.
Di sisi lain, kuliner tradisional Indonesia kini mulai tergeser dan tergantikan
oleh makanan cepat saji atau kuliner dari negara lain. Dan akhir-akhir ini,
kuliner tradisional sudah mulai sulit ditemukan terutama di kota-kota besar,
hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap kuliner tradisional semakin menurun
dan hanya sedikit yang bisa memasak kuliner tradisional, tak terkecuali
kabupaten Kendal. Hal ini merupakan dampak dari generasi itu sendiri karena
setiap generasi memberikan pengaruh terhadap masyarakat. Saat ini, generasi
Zoomers (Gen Z) merupakan generasi yang paling berpengaruh, karena sebagian
besar dari mereka berada pada usia produktif .Gen Z merupakan istilah untuk
mereka yang lahir di tahun 1997-2012. Selain sebagai generasi penerus bangsa,
generasi Zoomers juga dianggap sebagai generasi yang paling banyak memberikan
pengaruh terhadap tren yang sedang berkembang di masyarakat. Terutama
penggunaan gadget dan teknologi saat ini, menyebabkan mereka disebut sebagai
generasi instan, yang mana hal ini bertolak belakang dengan persepsi masyarakat
terhadap kuliner tradisional yang rumit dalam pembuatannya dan membutuhkan
waktu memasak yang lama.
Seiring dengan perkembangan zaman, semakin
sedikit generasi muda yang mengenal dan mau mengkonsumsi makanan
tradisional (Erdiana, 2019). Mereka cenderung menganggap
makanan tradisional kurang berkelas dan kurang gengsi untuk disantap karena
mereka menganggap bahwa makanan tradisional kurang berkelas dan gengsi untuk
menyantapnya (Andriyanty & Yunaz, 2020).
Suatu ketika, saya bertanya kepada beberapa
anak didik. Saya tanyakan apakah mereka tahu apa itu jongkong,kemplang,moto
kebo, Gethuk, pistuban, gandos, lupis, intil,kue cucur,nagasari, dan lain
sebagainya mereka malah balik bertanya apa itu? miris sekali. Begitu pula saat
saya menyebutkan berbagai macam bubur seperti bubur biji kolak. Lalu saya
bertanya jika disuruh memilih antara kerupuk rambak khas Kendal dan seblak,
kalian pilih mana? Satu kelas pun kompak menjawab seblak. Yah begitulah
ciri-ciri generasi mereka. Ingin yang serba instan. Tidak menyita banyak waktu,
Maunya tinggal makan.
Kabupaten Kendal memiliki banyak makanan
tradisional. Ada pula beberapa makanan yang khusus pada momentum tertentu.
Maksudnya adalah pada suatu tradisi tertentu makanan khusus itu harus ada.
Misalnya:bubur candil pada acara tedak siten, intil pada tasyakuran anak bayi yang
sudah mulai bisa berjalan, dan aneka ragam kolo di saat acara mitoni (7 bulan
kehamilan):Kolo kependem(kacang tanah, singkong, talas), kolo gumantung
(pepaya), kolo merambat (ubi/ketela rambat). total makanannya ada 7 jenis
dipotong kecil-kecil bersama tebu.Jika kesulitan mencari kolo yang lain, yang
penting ada dua macam kollo yaitu cangelo (kacang tanah dan ketela/ubi jalar.
Berbicara mengenai makanan tradisional yang ada
di kabupaten Kendal, mungkin tidak akan cukup kita membahasnya dalam waktu
sehari dua hari. Karena tiap desa saja memiliki tradisi yang berbeda dengan
yang lainnya. Contoh dalam acara hajatan, di desa A masak oblok-oblok itu
menggunakan kacang merah. Sedangkan di desa B oblok-oblok memanfaatkan kacang
hijau. Untuk wungkusan (makanan yang dibungkus daun pisang) sebagai jajan dan
biasanya ditaruh paling atas dalam berkat (bingkisan makanan) pada setiap desa
pun berbeda. Ada yang berupa awug-awug, bengkulet, monte (sagu mutiara kukus),
dan lain sebagainya. Beda daerah beda kebiasaan. Begitulah keberagaman kuliner
di kabupaten Kendal.
Makanan tradisional Kendal di daerah pegunungan
tidaklah sama dengan makanan tradisional di daerah pesisir. Makanan tradisional
Kendal yang terkenal diantaranya:
1. Sate Bumbon. Sate khas Kendal
yang terkenal dengan rasa manis dan gurih, menggunakan bumbu bumbon (bumbu yang
khas).
2. Momoh. Momoh adalah sajian
jeroan sapi atau kerbau yang dimasak dengan bumbu khusus dikenal sebagai
makanan penambah stamina.
3. Brongkos. Brongkos adalah
sajian daging yang dimasak dengan kuah santan, mirip dengan rawon, tetapi
dengan rasa yang lebih gurih dan sedikit manis.
4. Telur mimi. Telur ikan mimi
yang dicampur dengan bumbu dan parutan kelapa telah menjadi Warisan Budaya Tak
Benda (WBTB) Kabupaten Kendal.
5. Kupat Sumpil. Makanan Khas
Kaliwungu ini terbuat dari ketupat dan sayuran . Biasanya banyak muncul saat
peringatan bulan Maulid.
6. Kerupuk Usek. Kerupuk ini
juga disebut dengan kerupuk goreng wedi. Ada juga yang menyebutnya sebagai
kerupuk tayamum. Camilan khas Kendal ini terbuat dari adonan tepung tapioka dan
ikan, memiliki rasa gurih yang khas.
7. Kerupuk Rambak.
kerupuk rambak menjadi
primadona bagi mereka yang ingin membawakan buah tangan kepada keluarga
tercinta apabila berkunjung ke kabupaten kendal. Pusat produksi rambak ada di
kecamatan Pegandon.
Mempertimbangkan
cara agar kuliner khas kabupaten kendal dan jajanan tradisional tetap lestari,
maka seyogyanya para orangtua mewariskan resep kepada anak cucunya. Orangtua
juga hendaknya mengajari langsung kepada keturunannya proses pembuatan dan
sejarah serta filosofi makanan tersebut sehingga segala kuliner dan jajanan
tradisional Kendal tidak akan punah.
Adapun
peran Gen Z sangatlah penting dalam menjaga kelestarian warisan kuliner
kabupaten Kendal. tidak hanya jajanan tradisional,oleh-oleh khas, tetapi juga
makanan yang biasa dijadikan lauk. Contohnya trancam, lotrok, oseng-oseng kulit
melinjo, sayur jantung pisang, rebung, kerupuk usek, dan botok'an serta pepes.
Agar
kuliner makanan serta minuman di Kabupaten Kendal tidak punah atau hilang
digerus zaman, perlu adanya kolaborasi yang baik antar generasi.Perlu adanya
kerjasama yang baik pula antar instansi.
Ditulis
oleh: Dewi Azzahroh, S.Pd.I
Tidak ada komentar:
Posting Komentar