Kamis, 22 Mei 2025

Jurnal-latihan menulis jurnal

 THE MANAGEMENT OF ISLAMIC EDUCATION AS APPLIED  SAINS THEORIES, PHILOSOPHY, AND POLITIC POLICY


Dewi Azzahroh

UIN Walisongo Semarang

azzahrohd@gmail.com


ABSTRAK

MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI ILMU TERAPAN .

 (Teori, Falsafah dan Kebijakan Politik)

Di Indonesia, pendidikan Islam merupakan subsistem dari pendidikan nasional, sehingga pada dasarnya, keberhasilan pendidikan Islam akan membantu keberhasilan pendidikan nasional dan sebaliknya, pendidikan nasional dengan keberhasilannya pun juga turut membantu pencapaian tujuan pendidikan Islam. Namun demikian, kenyataan yang berlaku di lapangan adalah sebaliknya, pendidikan Islam seperti tersisihkan dan serasa di nomor duakan. Hal ini terbukti dengan perlakuan dan perhatian pemerintah kepada sekolah-sekolah umum yang begitu istimewa dibanding perhatian dan perlakuan kepada madrasah-madrasah yang ada di Indonesia. Memang terasa janggal, dalam suatu komunitas masyarakat muslim, pendidikan Islam tidak diberi kesempatan yang sama untuk bersaing dalam membangun bangsa yang besar ini. 

Perhatian pemerintah yang dicurahkan kepada pendidikan Islam ini kecil porsinya, padahal masyarakat Indonesia sendiri selalu diharapkan agar tetap berada dalam lingkaran masyarakat sosialis-religius. Bahkan tidaklah salah jika dikatakan bahwa, pendidikan Islam di Indonesia justru menempati ‘kelas dua’ di dalam masyarakat yang mayoritas muslim. Hal inilah yang kemudian santer disebut dengan dualisme - dikotomi pendidikan Islam dan pendidikan nasional. 

Pendidikan Islam yang disebut-sebut sebagai subsistem dari pendidikan nasional dan senyatanya terdapat dualisme-dikotomi dalam prakteknya, pada pengelolaan (manajemen) kedua pendidikan ini tidaklah berbeda. 

Oleh karena itu, Penulis tergugah untuk meneliti dan menganalisis bagaimana implementasi manajemen pendidikan islam sebagai penerapan sains baik teori, filosofi dan kebijakan politik. Sebagai penelitian benar atau tidaknya jurang pemisah antara pengetahuan agama dan umum. 

 Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode pengumpulan data kepustakaan,sekaligus bersifat normative, dengan melihat kasus-kasus yang ada di masyarakat tentang padu ttidaknya manjemen  pendidikan islam sebagai applied sains dalam berbagai bidang

Dapat ditarik benang merah dari penelitian ini, bahwasanya manajemen pendidikan islam diperlukan dalam setiap lini yang ada, karena menganut prinsip-prinsip yang luhur yang harus dipegang oleh masing masing penggerak lini seperti ahli administrasi politik, ahli falsafah, dan para manajer tiap perusahaan.

Kunci: Manajemen Pendidikan, Ilmu terapan manajemen, Falsafah manajemen
















THE MANAGEMENT OF ISLAMIC EDUCATION AS APPLIED  SAINS THEORIES, PHILOSOPHY, AND POLITIC POLICY

Indonesia, Islamic education as the part system of national education. Therefore, basically, islamic education succes will help national education succe There is a strong relation both of them. Factually, islamic education likes ignored and becaming number two. There are many proof likes our goverment giving a special deeds to the national school than islamic school. Radicoulusly, country which is moslem majority  isnt give same chance to compete and fight to support this nation.

Goverment concerning which is given to islamic education in litle amount, Eventhough, indonesian society should stay on religious circle.  This fact, prove that there was dikotomi between sains and islamic education  on practically. (management) . Factually tboth of them is not different. 

Therefore, the writer is encouraged to analyse the management Islamic education as applied science to prove there was dikotomi or not. To combine and to refresh that science is one. Type of research applied in this study is qualitative and its method of collecting data is library research, not only that, but also a normative legal research as it appears from the haziness norms on Islamic education management.

The final research on this research is islamic education management needed in everi fields due to every field holds a good principle which provide on islamic education management . This principle obligate holds by politicic administarator, experts on falsafah and manager in every company

Keywords: Islamic education management, Mnagement as applied science, Management Falsafah




PENDAHULUAN

Manajemen merupakan terjemahan dari kata management (Bahasa Inggris).Kata management sendiri berasal dari kata manage atau magiare yang berarti melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. Dalam pengertian manajemen, terkandung dua kegiatan, yakni pikir (mind), dan kegiatan tindak laku (action). Manajemen pada dasarnya merupakan suatu proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu.

Siagian  mengartikan manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Manajemen tidak dapat lepas dari falsafah, teori, politik, dan kebijakan manajemen pendidikan Islam.

Manajemen pendidikan islam mencakup beberapa hal, yakni administrasi, pembiayaan serta kerja sama dan sistem informasi pendidikan berdasarkan perspektif islam.Manajemen pendidikan Islam merupakan aktifitas untuk memobilisasi dan memadukan segala sumber daya pendidikan Islam dalam rangka untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang telah ditetapkan sebelumnya.

Di dalam manajemen Pendidikan Islam, dibahas banyak sub bab/ tema. Diantaranya falsafah, teori, politik, dan juga kebijakan Manajemen Pendidikan Islam.Berdasarkan paparan diatas, mengkaji dan memahami manajemen merupakan langkah awal yang perlu diperhatikan. Untuk itulah, penulis akan menjelaskan paparan teori-teori dari beberapa sumber dalam jurnal manajemen ini. Manfaat dari jurnal ini yaitu sebagai bahan kajian dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai fungsi manajemen sebagai applied sains, falsafah & teori Manajemen Pendidikan Islam, serta politik dan kebijakan Manajemen Pendidikan Islam. 


DISKRIPSI TEORI

Teori-teori Manajemen

  1. Teori Manajemen sebagai Ilmu terapan

Manajemen sebagai ilmu terapan karena berpusat pada relevansi teori-teori dasar tersebut dengan bidang terapan tertentu. Sebagai ilmu terapan, manajemen harus perduli dengan fungsi sosialnya  di masyarakat (mempunyai kegunaan yang dapat dipakai dalam setiap organisasi untuk mencapai tujuannya).


  1. Teori Manajemen Klasik

Tokoh utama adalah Frederick winslow taylor,lahir 1856.ia menyatakan bahwa manusia harus di perlakukan seperti mesin semi efisiensi dan efektifitas organisasi.tokoh lainnya adalah henry L. gantt,the gilbreths emerson,Edward A.filene.

Teori F.W.taylor tersebut tersebut dikembangkan oleh henry fayo( 1841-1925). Ia berpendapat bahwa keberhasilan para manajer tidak ditentukan oleh mutu pribadinya ,tetapi adanya pengalaman yang ilmiah dan pengunaan metode manajemen yang tepat.


  1. Teori Manajemen Human Relation Approach

Dalam organisasi tidak selalu bisa diramal dengan mudah,perilakunya juga sering tidak rasional. Tokohnya adalah musterberge Elton mayo dan wilian ouchi

  1. Teori Perilaku

Perilaku dapat dipahami melalui Tiga model pendekatan, yaitu model pendekatan rasional sosiologis dan hubungan manusia pada pada perkrmbangan nya mazhab ini membentuk teori-teori,seperti teori motivasi,keseimbangan konflik,komunukasi,kekuasaan,perubahan organisasi ,dan lain-lain. Tokohnya adalah Abraham maslow douglas Mc gregor ,Frederick hezberg, dan lain-lain.

  1. Teori Kontingensi

Manajemen tergantung pada situasi yang melatarbelakanginya prinsip manajemen yang suksespad situasi tertentu,beluum tentu efektif apabila digunakan di situasi lainnya.

Manajemen Pendidikan Islam

Manajemen pendidikan Islam tersusun dari tiga kata yang memiliki arti sendiri-sendiri, yaitu: manajemen, pendidikan, dan Islam.  Manajemen berasal dari kata islam adalah proses pemanfaatan sumber daya yang dimiliki (umat islam,lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak.pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif,efisein, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Manajemen yang ada dan bersumber asli dari ajaran Islam, Al Qur’an dan Al Hadits.Kedua, berangkat dari manajemen luar Islam dalam kajian manajemennya. Dengan kata lain memfilterisasi teori manajemen Barat agar mengandung nilai-nilai keislaman.

  1. Manajemen Pendidikan Islam dari sumber Islam  

Gambaran manajemen telah diungkapkan dalam Al Qur’an di surat as sajadah ayat 5 yang artinya Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun penurut perhitunganmu.

Dalam ayat itu dijelaskan bahwa Allah SWT adalah pengatur (manager) segala urusan yang di langit dan di bumi.Keteraturan siklus yang terjadi di alam semesta ini berada dalam genggaman-Nya.Namun demikian, Allah memberikan keistimewaan kepada manusia untuk mengelola bumi, khalifah fil ardh, karena itu manusia juga dibekali akal oleh Allah SWT supaya kreatif positif dalam mengelolanya.

  1. Madzhab teori prilaku (behavior approach)

   Madzhab ini ditandai dengan tim-tim peneliti operasi untuk memecahkan masalah industry. Teori ini didukung oleh event ini didukung para ahli matematika, fisika, dan dansarjana eksakta lain.Ini dalam memecahkan masalah rumit yang dihadapi oleh manajer.

  1. Madzhab system

Madzhab ini menganggap bahwa sebuah sistem. Organisasi dipandang sebagai satu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan [subsistem] dan berinteraksi dengan lingkungannya asumsi dasar yang dibangun oleh mazhab ini adalah satu kegiatan dalam sebuah organisasi sangat berpengaruh taerhadap kegiatan dari setiap kegiatan lainnya tokoh mazhab ini adalah vilfredo pareto (1896-1917).

  1. Madzhab kontigensi

Ajaran pokok dalam mazhab ini adalah bahwa Manajemen tergantung pada situasi yang melatarbelakanginya prinsip manajemen yang suksespad situasi tertentu,belum tentu efektif apabila digunakan di situasi lainnya

  1. Madzhab neo-hubungan manusia

Mazhab ini berusaha memgginteraksikan sisi positif manusia dan manajemen ilmiah pendekata ini melihat bahwa manusia merupakan makhluk yang emosional.

Intuitif dan kreatif.Dengan memahami kedudikan manusia tersebut prinsip mnajemen dapat di kembangkan lebih lanjut.Tokoh mazhab ini adalah W.Edward Deming.

Selain beberapa mazhab di atas, terdapat pula model – model manajemen pendidikan yang di kemukakan oleh Shama menurutnya model manajemen pendidikanada enam yaitu (1) formal, (2) kolegial, (3) politik, (4) subyektif, (5) mendua ,dan (6) kultural. Model formal lebih menemakan pada struktur organisasi, model kolegial menekankan pada teori kekuasan dan pengambilan keputusan di lakukan dengan melibatkan seluruh organisasi (partisipatif), model politik penekananya pada area tawar-menawar dalam mengambil keputusan (negosiasi), model subyektif adalah menekankan pada individu-individu daripada keseluruhan, model mendua menekanka pada ketidakpastian atau tidak dapat diramalkan, dan model kultural penekanannya pada aspek informal organisasi  ,nilai-nilai   keyakinan,   norma,   tradisi   menurut   persepi individu.

Beberapa teori manajemen tersebut apabila dipraktikkan oleh lembaga pendidikan islam maka penulis sebut sebagai integrasi manajemen pendidikan islam dengan pola pemikiran manjemen Barat. Hal semacam ini adalah sah karena ilmu manajemen sebetulnya suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri tidak terikat agama manapun sehingga bisa dimanmfaatkan bagi yang membutuhkan.

Konsep pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam harus didasari beberapa konsep: kerangka tauhid/teologi, dikembangkan sebagai upaya meningkatkan taqwa dan ibadah kepada Allah Swt, harus dimulai dari suatu pemahaman kritis atas epistemology Islam klasik dan rumusan kontemporer tentang ilmu, harus dikembangkan oleh orang muslim yang seimbang kecerdasan akal dan spiritualnya, ilmu pengetahuan harus dikembangkan dalam kerangka intregal.

Berdasarkan jenis lembaganya, macam-macam manajemen pendidikan Islam yang berkembang apabila dilihat dari sudut pandang lembaganya dapat di kategorikan menjadi beberapa macam, di antaranya manajemen pondok pesantren, manajemen madrasah, dan manajemen PAI di sekolah umum.Hal itu di ungkapkan oleh prof Dr.H. haidar putra daulany, M.A. dalam bukunya yang berjudul pendidikan islam dalam system pendidikan nasional di Indonesia ada dua.

  1. Manajemen pendidikan islam pondok pesantren

Menurut yacub (1984), secara garis besar lembaga pesantren dapat digolongkan menjadi dua tipologo, yaitu tipe pesanten salafi dan tipe pesantren khalafi.pesantren salafi yaitu pesantren yang mengajarkan kitab-kitab klasik islam/huruf arab gundul.sistem sorogan sendi utama yang diterapkan pengetahuan non agama tidak diajarkan. Sedangkan pesantren khalafi adalah system pesantren yang menerapkan system madrasah yang diajarkan secara klasikal,memasukan pengetahuan umum dan bahasa non arab dalam kurikulum dan akhir-akhir ini di perkaya dengan berbagai ketrampilan.

Terdapat beberapa jenis pola manajemen pendidikan di pondok pesantren, pola yang pertama ciri-cirinya adalah masih terikat kuat dengan sistem pendidikan islam sebelum zaman pembaruan pendidikan di Indonesia. (1) pengkajian kitab-kitab kalsik semata-mata (2) memakai metode sorogan, wetonan dan hafalan (3) tidak memakai sistem klasikal, tingkat pengetahuan diukur dari banyak kitab yang dipelajari kepada ulama mana ia berguru (4) tujuan pendidikan adalah meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan kejujuran serta menyiapkan hati yang bersih.Pola yang kedua ciri-cirinya tetap menggunakan kitab-kitab klasik tetapi sudah ada yang klasikal dan non-klasikal (sorogan dan wetonan yang terjadwal).Disamping itu diajarkan ekstrakulikuler seperti keterampilan dan praktik keorganisasian. Sistem klasikal dibagi menjadi jenjang dasar (ibtidaiyah) 6 tahun, jenjang menengah pertama (tsanawiyah) 3 tahun, dan jenang menengah atas (aliyah) 3 tahun. 

Adapun pola ketiga cirinya telah diupayakan menyeimbangkan antara ilmu agama dan umum.Ditanamkan sikap positif terhadap kedua jenis ilmu tersebut kepada santri.Berbagai aspek pendidikan juga ditanamkan, seperti kemasyarakatan, keterampilan, kesenian, kejasmanian, kepramukaan, dan pengembangan masyarakat.Struktur kurikulumnya memodifikasikan madrasah negeri dan pelajaran agama, dan ada pula memakai kurikulum yang dibuat oleh pondok sendiri.Pelajaran ilmu-ilmu agama pada pola III juga tidak harus bersumber dari kitab-kitab klasik. Pola keempat cirinya mengutamakan pengajaran ilmu-ilmu keterampilan hidup (life skill) di samping ilmu-ilmu agama sebagai mata pelajaran pokok. Dengan demikian kegiatan pendidikannya meliputi kegiatan kelas, praktik di laboratorium, bengkel, kebun/lapangan.Dan pola terakhir cirinya mengasuh beraneka ragam lembaga pendidikan yang tergolong formal dan non  formal, lebih lengkap dari pola-pola sebelumnya. Di pesantren tersebut ditemukan pendidikan madrasah, sekolah, perguruan tinggi, pengkajian kitab-kitab klasik, majlis taklim, dan pendidikan keterampilan.

b. Manajemen Pendidikan Islam Madrasah

Sejak Indonesia merdeka, perkembangan manajemen pendidikan Islam madrasah menurut Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, M.A. mengalami tiga fase: Fase pertama, konsentrasi madrasah adalah pada pengembangan ilmu-ilmu agama dan tamatan madrasah otomatis menjadi keluarga besar Departemen Agama, baik untuk melanjutkan pelajaran maupun untuk lapangan kerja. Fase kedua, telah terjadi perubahan orientasi yang awalnya agama berubah ke pengetahuan umum. Pada fase ini ijazah madrasah memiliki nilai sama dengan sekolah umum, lulusan madrasah bisa melanjutkan di sekolah umum dan siswa madrasah boleh pindah ke sekolah umum yang setingkat. Pada fase ini, pengajaran pendidikan agama Islam sekurang-kurangnya adalah 30% di samping mata pelajaran umum. Fase ketiga, madrasah disebut sebagai sekolah yang berciri khas Islam. pengertiannya bahwa seluruh programnya sama dengan sekolah ditambah dengan mata pelajaran agama Islam sebagai ciri Islamnya.Madrasah Aliyah sebagai sekolah tingkat menengah juga disebut sebagai sekolah menengah yang berciri khas Islam.

c.  Manajemen Pendidikan Islam Sekolah Umum

Sekolah umum memberikan porsi keagamaan yang cukup sedikit dibandingkan dengan madrasah.Sehingga dibutuhkan manajemen pendidikan yang lebih efektif-efisien untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan.Dalam hal ini adalah agama Islam.

Di antara jenis pengelolaan pendidikan yang dinilai efektif adalah dengan mengupayakan adanya bimbingan kehidupan beragama, uswatun  hasanah (contoh teladan), malam ibadah, pesantren kilat, laboratorium pendidikan agama, iklim religius dan hubungan sekolah dan rumah tangga. Hal itu harus dilakukan dengan komitmen yang tinggi, kerja keras secara kontinyu dan kerja sama yang baik antar personal dalam lembaga pendidikan Islam tertentu.

3Berdasarkan Struktur Kelembagaannya

   Setidaknya terdapat tujuh konsentrasi cabang dalam manajemen pendidikan apabila didasarkan pada struktur kelembagaannya, yakni manajemen kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, tenaga pendidik, hubungan masyarakat, keuangan, dan tenaga kependidikan.

a. Kurikulum

    Menurut Olivia (1984), kurikulum adalah seperangkat pengalaman anak di bawah bimbingan sekolah. Termasuk dalam konsep ini adalah semua pengalaman belajar di dalam dan di luar sekolah. Di dalam sekolah seperti proses belajar mengajar sehari-hari, sedangkan di luar sekolah misalnya study tour, out bound, dan lain-lain.

    Dari kurikulum inilah akan diketahui arah pendidikan serta hasil pendidikan yang hendak dicapai dari aktivitas pendidikan.

     b. Kesiswaan

Kesiswaan meliputi berbagai macam kegiatan terkait dengan siswa, mulai dari pendaftaran siswa sampai mereka tamat mengikuti pendidikan di sekolah.Terkait dengan penerimaan peserta didik baru membentuk panitia, menentukan syarat pendaftaran calon peserta didik baru, penyediaan formulir, pengumuman pendaftaran calon, menyediakan buku pendaftaran, waktu pendaftaran hingga pengumuman calon yang diterima. Setelah diterima maka ditulis di buku induk, diberlakukan peraturan-peraturan atau tata tertib kepada mereka, dan berbagai kegiatan lain yang dilalui hingga mereka lulus.

c. Sarana dan Prasarana

Ditinjau dari fungsi atau peranannya terhadap proses belajar mengajar maka sarana pendidikan (sarana material) dibedakan menjadi tiga macam, yakni alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran. Sedangkan prasarana adalah bangunan sekolah dan alat perabot sekolah. 

d. Tenaga Pendidikan

Dalam proses pendidikan guru memiliki peranan sangat penting dan strategis dalam membimbing peserta didik ke arah kedewasaan, kematangan dan kemandirian, sehingga guru sering dikatakan sebagai ujung tombak pendidikanDengan demikian guru memegang peranan vital dalam mencapai tujuan pendidikan.

e.  Hubungan Masyarakat

Pakar humas internasional, Cultip, merumuskan fungsi humas sebagai berikut: (1) menunjang aktifitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama, (2) membina hubungan yang harmonis antara badan/organisasi dengan pihak publiknya, sebagai khalayak sasarannya, (3) mengidentifikasi opini, persepsi dan tanggapan masyarakat terhadap badan/organisasi yang diwakilinya atau sebaliknya, (4) melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbang saran kepada pemimpin manajemen demi tujuan dan manfaat bersama, dan (5) menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi, serta pesan dari badan/organisasi ke publiknya atau sebaliknya demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak. 

f.  Keuangan

Manajemen keuangan diartikan sebagai pengelolaan atas fungsi-fungsi keuangan. Manajemen keuangan berfungsi sebagai unit penunjang (supporting unit) dalam suatu organisasi/badan, termasuk lembaga pendidikan Islam. Adapun beberapa hal penting yang harus diperhatikan adalah (1) konsep manajemen keuangan, peran dan fungsi harus dijalankan, (2) anggaran (budgetting), (3) kegiatan investasi (capital budhetting), (4) pengendalian keuangan (kas dan biaya).

g.  Tenaga Kependidikan

Tenaga kependidikan adalah tim pendukung kelancaran pelaksanaan program-program sekolah. Termasuk di dalamnya adalah tata usaha (TU), chefsekolah, cleaning service, dan lain-lain selain guru dan kepala sekolah.Perbedaan jenis tenaga kependidikan tergantung pada kebutuhan sekolah masing-masing.

        Selain tujuh konsentrasi tersebut, terdapat juga manajemen layanan khusus (perpustakaan, UKS, asrama, bimbingan dan konseling, koperasi, keamanan, kafetaria, dan laboratorium), manajemen mutu, manajemen personalia, manajemen tata lingkungan, dan lain-lain yang merupakan pengembangan dari tujuhkonsentrasi di atas.

Prinsip dasar Manajemen Pendidikan Islam

Henry Fayol mengemukakan prinsip-prinsip manajemen yang dibagi menjadi 14 bagian, yaitu  Division of work (pembagian kerja), Authority and Responsibility (wewenang dan tanggung jawab), Discipline (Disiplin), Unity of command (kesatuan komando), Unity of direction (kesatuan arahan), Subordination of individual interest to general interest (tidak mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kelompok), Remuneration of Personnel (Kesejahteraan personil), Centralization (Senralisasi), Scalarchain (Rantai saklar), Order (Pegangan tiap orang pada posisi masing-masing), Equity (Hasil kombinasi keramahtamahan dan keadilan), Stability Of Tonure Of Personnel (Stabilitas tiap personil), Initiative (Inisiatif), Ecsprit de Corps (Persatuan adalah kekuatan).

Falsafah dan Teori Manajemen Pendidikan Islam

Falsafah yaitu suatu usaha untuk mencari kebenaran (seeking the truth), dan kebenaran itu sebenarnya hanya Allah. Kalau kita cuba mencari erti hakikat hidup, maka ini adalah falsafah. Hakikat hidup yang sebenar hanya Allah sahaja yang mengetahuinya. Yang kita tahu berdasarkan apa yang diberitahu oleh Allah, maka itulah yang benar dan mutlak. Yang kita fikirkan sendiri menjadi falsafah kita dan tidak bersandarkan kepada kitab Allah, maka itu tidaklah sebenar, ia tidak mutlak dan ianya bersifat relatif. Sebab itu bermacam-macam falsafah timbul hasil pemikiran manusia. Seperti Liberalisme, Idealisme, Asetisme, Eksistensialime, Hedonisme, Kapitalisme, Kommunisme dan banyak lagi. Falsafah Pendidikan Islam ialah falsafah pendidikan yang berteraskan ruh alam, iaitu falsafah Islam untuk pendidikan, dan ia disebut Falsafah Pendidikan Islam (Al-Syaibany, 1991). Jadi, maksud daripada Falsafah Pendidikan Islam ialah menyediakan manusia dengan dan ilmu pengetahaun yang cukup agar ia kenal dirinya serta tugas dan tanggungjawabnya, serta mengetahui cara untuk menjalankan atau melaksanakan tanggungjawabnya sebagai hamba dan khalifah Allah. Bila ia dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab ini dengan baik maka jadilah ia insan yang saleh.

Sejak zaman Taylor dan Fayol, teori manajemen yang sifatnya universal tersebut semakin berkembang dengan cepat. Banyak sumbangan penting yang diperoleh antara lain bersumber dari:

1.      Para Ahli Publik Administration

Berkenaan dengan timbulnya gerakan manajemen ilmiah maka ahli-ahli didorong juga untuk menciptakan efisiensi di dalam pemerintahan terutama dalam bidang personalia dan manajemen yang lebih matang.Penganjur terkemuka adalah Wilson sejak tahun 1885 berkali-kali menyerukan efisiensi di dalam pemerintahan.

2.      Para Manajer Perusahaan

Tokoh dibidang ini selain Fayol ialah Robb yang mengatakan bahwa organisasi adalah sebagai alat untuk mengarahkan tenaga manusia dan material secara efisien, suatu alat yang harus disesuaikan dengan kegiatan setiap usaha. Robb adalah orang pertama yang memperingatkan organisasi yang melampaui batas, yang mengandung bahaya terlalu banyak spesialisasi fungsionil di dalam perusahaan akan menimbulkan persoalan dalam hal koordinasi.

Tokoh lain ialah Dennison seorang industrialis yang memper-kembangkan konsepsi motivasi, kepemimpinan dan kerja sama kelompok dalam suatu perusahaan. Barnard mengemukakan teori tentang pengambilan putusan, dengan perhatian utama mencari faktor yang strategis. Brown seorang usahawan mengemukakan analisis delegasi wewenang.

3.      Sumbangan para Sosiolog dan Ahli Ilmu Jiwa

Sosiolog memberi sumbangan dalam kehidupan dan perilaku kelompok serta kepemimpinan, sedang psycholog memberi teori-teori tentang perilaku rasional dalam pemutusan, mekanisme pengaruh kelompok, sifat kepemimpinan dan masalah motivasi.

Politik dalam Manajemen Pendidikan Islam

Politik dalam Manajemen Pendidikan Islam adalah system Demokrasi. Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena Kuno pada ke-5 SM. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berari pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. 
Demokrasi berkembang menjadi sebuah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintahan negara tersebut.
Untuk melembagakan demokrasi diperlukan hukum dan perundang-undangan dan perangkat struktural yang akan terus mendorong terpolanya perilaku demokrasi sampai bisa menjadi pandangan hidup. 
1.Legalitas Demokrasi Pendidikan 
Pengukuran terhadap hak asasi setiap individu anak bangsa untuk menurut pendidikan pada dasarnya telah mendapat pengakuan secara legal sebagai-mana yang diamanahkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 (1) yang berbunyi bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. 
Selama ini memang kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan telah menuju pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga secara konseptual pemerintah telah melaksanakan kewajibannya sesuai dengan ketentuan undang-undang.
2.Demokrasi dan Transformasi Sosial
Kehidupan demokrasi dalam bidang pendidikan merupakan tindakan memhargai keberagaman potensi individu yang berada kebersamaan. Dengan demikian segala bentuk penyamaran individu dalam satu uniformitas dan pengingkaran terhadap keunikan sifat individu bertentangan dengan salah satu prinsipdemokrasi.
Demokrasi pendidikan bukan hanya sekedar, tetapi juga nilai-nilai pengukuran dalam kehormatan dan martabat manusia. Dalam hal ini melalui upaya demokratisasi pendidikan diharapkan mampu mendorong munculnya individu yang kreatif, kritis dan produktif tanpa harus mengorbankan martabat dan dirinya.
Dengan adanya demokrasi pendidikan maka dengan sendirinya secara prinsip akan lebih memenangkan yang bersifat terbuka, sehingga sitiap warga negara dalam menikmati pendidikan seharusnya tidak lagi didasarkan atas kabilah atau kelompok tertentu saja yang memiliki uang dan/atau kekuasaan.
3.Demokrasi dan Desentralisasi Pendidikan 
Demokratisasi pendidikan terkait dengan beberapa masalah utama, antara lain desentralisasi pendidikan melalui perangkat kebijakan pemerintah yaitu Undang-Undang yang mengatur tentang pendidikan di negara kita. Namun perlu diketahui bahwa menurut Alisjahbana (2000) mengacu pada Bukti (1999) menyatakan bahwa desentralisasi pendidikan ini secara konseptual dibagi menjadi dua jenis, pertama desentralisasi kewenangan di sektor pendidikan.Desentralisasi lebih kepada kebijakan pendidikan dan aspek pendanaannya dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.Kedua, desentralisasi pendidikan dengan fokus pada pemberian kewenangan yang lebih besar di tingkat sekolah. 
4. Urgensi Desentralisasi Pendidikan 
Salah satu konsepnya adalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang mulai diimplikasikan pada sekolah-sekolah dasar dan menengah dibeberapa provinsi di Indonesia, mungkin juga konsep pendidikan “masyarakat belajar” bagi masyarakat akademis seperti digagas Murbandono Hs (1999) yang menurutnya bukanlah utopia. Dengan demikian dalam konteks ini, kebijakan otonomi daerah (melalui diterbuktinya UU No. 32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004) dan desentralisasi pendidikan dalam rangka perbaikan pendidikan ini sangat perlu dan mendesak.

Kebijakan dalam Manajemen Pendidikan Islam

Pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu upaya meewarisi nilai yang menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan dan untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia, tanpa pendidikan manusia sekarang tanpa berbeda dengan manusia masa lampau, yang dibandingkan dengan manusia sekarang telah sangat tertinggal baik kwalitas maupun proses pembedayaanya.Untuk itu pemerintah banyak membantu dalam dunia pendidikan diantaranya banyak peraturan-peraturan yang telah di buat seperti :

  • Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2008 Standar Adminitrasi Sekolah

  • Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 Pembagian Wewenang

  • Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan

  • Peraturan Pemerintah No.47 Tahun 2008 wajib Belajar

  • Peraturan Pemerintah No.74 Tahun 2008 Guru

  • Undang-Undang No.14 Guru dan Dosen

  • Undang-Undang No.20 Sekdiknas


Metode Penelitian

Kali ini penulis menggunakan metode library research dan juga pengamatan (observasi). (penelitian kepustakaan/ penelitian literatur), yaitu  rangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.


Analisis

Di Negara Indonesia ini, banyak manajemen pendidikan yang berupa manajemen pendidikan Islam pondok pesantren. Jumlah pondok pesantren di Negara ini 27.218 pondok pesantren yang terdiri dari 13.446 pondok salafiyah, 3.064 pondok khalafiyah, dan 10.708 pondok kombinasi (salafiyah dan khalafiyah). Manajemen di Indonesia ini sudah cukup bagus. Khususnya untuk manajemen pendidikan Islam. Adapun teori manajemen yang berkembang di Indonesia merupakan sumbangan dari para ahli, tidak hanya ahli dalam bidang manajemen saja seperti contohnya dari sosiolog.

Kesimpulan

   Bedasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa     manajemen sebagai Applied sains, manajemen harus perduli dengan fungsi   sosialnya di masyarakat (mempunyai kegunaan yang dapat dipakai dalam setiap organisasi untukm mencapai tujuannya)..  Manajemen pendidikan islam adalah suatu proses penataan/pengelolaan lembaga pendidikan islam yang melibatkan sumber daya manusia muslim dan non manusia dalam menggerakannya untuk mencapai tujuan pendidikan islam secra efektif dan efisien.Itu berarti dalam suatu lembaga pendidikan islam di perlukannya manajemen yang baik sesuai dengan kaidah aturan dan ajaran yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits, adapun proses manajemen pendidikan islam meliputi planning manajemen pendidikan islam, organizing manajemen pendidikan islam, actuating manajemen pendidikan islam dan controlling manajemen pendidikan islam. Selain itu dalam manajemen pendidikan islam terdapat prinsip-prinsip manajemen pendidikan islam yaitu, ikhlas, jujur, adil, amanah dan tanggungjawab. Falsafah Manajemen Pendidikan Islam ialah menyediakan manusia dengan dan ilmu pengetahaun yang cukup agar ia kenal dirinya serta tugas dan tanggungjawabnya, serta mengetahui cara untuk menjalankan atau melaksanakan tanggungjawabnya sebagai hamba dan khalifah Allah. Bila ia dapat menjalankan tugas dan tanggungjawab ini dengan baik maka jadilah ia insan yang saleh..teori Manajemen Pendidikan Islam bersumber dari para Ahli Publik Administration, Para Manajer Perusahaan, dan Sumbangan para Sosiolog dan Ahli Ilmu Jiwa. Politik dalam MPI adalah demokrasi dan kebijakan-kebijakan telah dibuat oleh pemerintah dalam rangka keberlangsungan Manajemen Pendidikan Islam.














DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin,Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta. Kencana Prenada Media Group, 2010

Nata, Abuddin , Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012

Nata, Abuddin, manajemen pendidikan: mengatasi kelemahan pendidikan islam di Indonesia,edisi IV, Jakarta:kencana prenada media group,2010

Subroto, B. Suryo Dimensi-Dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah, Jakarta: Bina  Aksara, 1984

Kurniadin, Didin, Dr. Imam Machlmi, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2012

Daulay, Haidar Putra, Pendidikan islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di 

Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007

Samaky, ,Husain AH ,Paradigma Pendidikan Islam, Yogyakarta: Safina Insania Press, 2003

Usman, Husaini, Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, Edisi 4, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013

Marno,Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: PT. Refika Aditama, 2008

Muhaimin dkk, Manajemen Pendidikan Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/ Madrasah, Jakarts: Prenada Media Group, 2011

Ramayulis,ilmu pendidikan islam, Jakarta: kalam mulia, 2010

Siagian, Sondang P,  filsafah administrasi, Jakarta: CV.Masaagung, 1990

Sagala, Syaiful Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan: Pembuka Ruang Kreativitas, Inovasi, dan Pemberdayaan Potensi Sekolah dalam Sistem Otonomi Sekolah, Bandung: Alfabeta, 2013

Dahlan, Zaini Azharuddin Sahil, Qur’an Karim dan Terjemahan Artinya, Yogyakarta: UII Press, 2000.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DEA MASUK BERITA, INSPIRATIF KATANYA

Ini ceritaku. awalnya aku memiliki teman baru bernama fani dari komunitas baru kendal book circle. dari situ, kita saling berkirip pesan via...